Pentingnya Peran Seluruh Stakeholder dalam Mengatasi Kekerasan (Bullying) di Sekolah (Melati Putri Pertiwi., S.Psi., M.Si)

Pentingnya Peran seluruh Stakeholder dalam Mengatasi Kekerasan (Bullying) di Sekolah

Melati Putri Pertiwi, S.Psi., M.Si

Social Psychology Department, Universitas Setia Budi Surakarta

 

Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa minggu ini dikejutkan dengan beredarnya video kekerasan yang dilakukan beberapa anak sekolah dasar Bukittinggi terhadap temannya. Dalam video tersebut nampak seorang siswa perempuan ditendang dan dipukuli oleh beberapa temannya yang lain. Yang lebih memprihatinkan adalah tidak ada satupun temannya yang lain yang mau menolong sang korban. Selain itu ada pula kasus penyiksaan seorang anak oleh teman satu sekolahnya hingga mengakibatkan matanya hampir buta. Penyiksaan di sekolah seperti video tersebut memang tak pernah berhenti menghebohkan dunia pendidikan Indonesia.

Seringkali media juga menampilkan berita kekerasan atau penggencetan yang terjadi di lingkungan sekolah, seperti penggencetan yang dilakukan oleh kakak kelas terhadap adik kelas. Kekerasan yang terjadi selama Masa Orientasi Siswa (Ospek) juga kerap menyedot perhatian publik, karena tak jarang kekerasan tersebut mengakibatkan peserta Ospek meninggal. Di samping isu-isu pendidikan lain, masalah kekerasan di sekolah merupakan sebuah fenomena yang belum juga menemukan jalan keluar. Bukannya semakin berkurang, semakin lama pengaduan atas kekerasan di sekolah semakin banyak dan bahkan mencapai pada level mengkhawatirkan. Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak, menuturkan bahwa kasus penyiksaan anak di sekolah mencapai puncaknya pada tahun 2011, yaitu 139 kasus

Sebenarnya fenomena apakah yang terjadi dalam dunia pendidikan kita? Kekerasan demi kekerasan maupun penyiksaan demi penyiksaan dapat dengan mudah kita temui dalam berita-berita di media massa. Bahkan barangkali Anda juga menemui fenomena tersebut dalam sekolah Anda terdahulu ataupun di sekolah buah hati Anda. Muncul banyak penjelasan dalam kasus kekerasan di sekolah. Dalam sudut pandang psikologi, kekerasan di sekolah diistilahkan sebagai bullying.

Bullying yang terjadi di lingkungan sekolah sebenarnya bukan barang baru, baik di Indonesia maupun secara global. Fenomena tersebut sudah lama terjadi di berbagai belahan dunia. Selama masa sekolah, hampir sebagian besar siswa pernah mengalami atau terlibat dalam bullying. Hasil analisis Nationals Institutes of Health Study terhadap data World Health Organization (WHO) tahun 2005/2006 pada anak sekolah membuktikan bahwa sebagian besar siswa di USA masih mengalami bullying. Analisis survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 20.8% responden mengakui bahwa mereka pernah terlibat ke dalam bullying sekolah, baik berperan sebagai pelaku maupun sebagai korban. Oleh karena itu, pantas kiranya bila disebutkan bahwa bullying merupakan fenomena yang menjadi momok dalam dunia pendidikan.

Penelitian ilmiah pertama tentang bullying dilakukan oleh seorang ilmuwan psikologi asal Swedia bernama Dan Olweus pada tahun 1970 (Olweus, 1991). Olweus (1991) mendefinisikan bullying sebagaisebuah kondisi yang menggambarkan perilaku negatif berulang dari seorang individu atau kelompok. Perilaku negatif bullying adalah perilaku yang merugikan pihak lain secara langsung, seperti kekerasan fisik; kata-kata yang menyakitkan; gestur atau sikap yang menghina/mengejek; pengucilan (Olweus, 1996); dan penolakan terhadap permintaan pihak lain (korban) secara kasar (Olweus, 1991). Bullying lebih dari sekedar perilaku menggoda atau jahil di antara sesama teman. Fenomena ini sudah mengarah pada sebuah pola perilaku agresif yang sengaja dilakukan untuk melukai fsik atau psikis korban.

Agresi yang ditunjukkan dalam bullying memiliki tiga ciri khusus, yaitu: (1) adanya kesengajaan dari bullies (pelaku) untuk melukai victim (korban); (2) terjadi secara berulang-ulang; dan (3) terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara bullies dengan victim. Berdasarkan ciri yang terakhir, maka dapat disimpulkan bahwa percecokan yang terjadi di antara dua orang atau lebih dengan kekuatan yang seimbang tidak dapat didefinisikan sebagai perilaku bully. Bullying hanya terjadi ketika terdapat ketimpangan kekuatan antara pihak pelaku dengan pihak korban, di mana korban lebih lemah (baik fisik maupun psikologis) dibandingkan pelakusehingga mereka tidak mampu untuk mempertahankan diri ataupun membalas perilaku agresi pelaku.

Penelitian lintas budaya tentang bullying di Indonesia pernah dilakukan oleh Huneck (2007). Huneck melakukan penelitian kualitatif terhadap siswa kelas satu hingga kelas enam di sebuah sekolah dasar Jakarta Pusat. Dari hasil penelitiannya, Huneck menemukan bahwa memang belum ada istilah resmi dalam bahasa Indonesia untuk menyebut konsep bullying. Responden penelitian mengungkapkan bahwa memang benar telah terjadi kasus penyiksaan di lingkungan sekolah, namun tidak ada istilah khusus untuk menyebut penyiksaan tersebut. Contoh penyiksaan tersebut adalah siswa yang menendang, memukul, atau mendorong siswa lain. Selain itu terjadi pula siswa yang menghina siswa lain dengan memberikan “name labelling” (pemberian nama dengan tujuan untuk mengejek/menghina)atau ejekan-ejekan lainnya.

Yang patut diketahui di sisni, bullying memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi korban. Siswa yang menjadi korban bullying akan mengalami berbagai emosi negatif, seperti ketakutan, cemas, frustrasi, teraniaya, kesepian, dan merasa terkucilkan. Berbagai emosi negatif tersebut akan membuat korban cenderung mengalami mood swing (perubahan mood secara drastis) dan withdrawal (menarik diri) ketika berada di sekolah, selain itu mereka juga susah untuk berkonsentrasi. Oleh karena itu, rata-rata siswa yang menjadi korban akan mengalami gangguan nilai akademis.

Fakta di atas tentu menjadi sebuah alarm tanda bahaya bagi para pelaku dalam dunia pendidikan. Berbagai pihak dan terutama seluruh stakeholder yang terlibat dalam lingkup pendidikan diwajibkan awas serta waspada terhadap fenomena ini. Karena tak jarang kita menemui bahwa fenomena bullying terlambat disadari oleh pihak sekolah ataupun guru yang berwenang, sehingga akhirnya siswa yang menjadi korban terlanjur mengalami efek psikologis negatif. Bahkan tak jarang banyak pula korban bullying melakukan bunuh diri. Kondisi ini tentu sangat disayangkan.

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah apa yang harus segera dilakukan untuk mengatasi maraknya fenomena bullying ini? Srategi apa kiranya yang dapat kita lakukan untuk menghentikan budaya penyiksaan yang menjadi momok dalam dunia pendidikan kita?

Sudah banyak penelitian psikologi, terutama psikologi sosial, yang berusaha untuk menguak dan melakukan intervensi terhadap fenomena mengerikan ini. Terdapat sebuah trend di kalangan peneliti selama satu dasawarsa terakhir ini. Dulu penelitian bullying berfokus pada perubahan perilaku pelaku maupun korban. Akan tetapi para peneliti berpikir bahwa saat ini yang paling penting bukanlah merubah perilaku pelaku ataupun korban yang sifatnya sudah permanen dan sulit untuk diubah. Akhirnya para peneliti menemukan bahwa teknik intervensi yang paling efektif dan mujarab dalam menghentikan perilaku bullying adalah dengan melibatkan bystander. Hal ini muncul dari sebuah pemikiran bahwa perilaku bystander-lah yang paling mudah untuk diubah atau diintervensi. Yang dimaksud bystander di sini adalah seluruh pihak yang berkepentingan atau stakeholder yang berada di sekitar pelaku maupun korban saat terjadinya bullying.

Banyak penelitian yang berhasil membuktikan bahwa bullying dapat berhenti secara efektif ketika bystander ikut berperan aktif dalam menghentikan fenomena tersebut. Bystander tidak hanya terbatas pada teman sebaya saja, namun juga guru, staf/karyawan sekolah, kepala sekolah, orang tua murid, dan bahkan pedagang sekolah.

Akan tetapi, sayangnya banyak penelitian lainnya yang menemukan bahwa dalam dunia pendidikan, berbagai stakeholder ini cenderung pasif dan tidak mau ambil pusing terhadap fenomena bullying. Mereka cenderung acuh tak acuh dan lebih mengutamakan kepentingan mereka sendiri ketimbang berperan aktif dalam menghentikan penyiksaan yang dilakukan pelaku bullying terhadap korban.

Banyak temuan yang menemukan bahwa siswa yang melihat terjadinya bullying di sekitar mereka memilih untuk diam saja dan tidak berusaha untuk menghentikan penyiksaan tersebut. Padahal mereka tahu bahwa penyiksaan yang terjadi dalam lingkungan sekolah adalah sebuah hal yang salah. Begitupun halnya yang terjadi pada guru maupun pihak-pihak berwenang lainnya. Mereka cenderung bersikap pasif dan apatis dalam kasus bullying. Satu hal yang menjadi catatan di sini adalah para korbanbullying cenderung tidak mau melaporkan penyiksaan yang menimpa diri mereka kepada guru maupun orang tua. Mereka takut akan mendapatkan penyiksaan yang lebih berat lagi apabila ketahuan melaporkan bullying tersebut kepada orang tua atau guru.

Oleh karena itu, sesungguhnya diperlukan peran aktif dari guru untuk menguak kasus bullying itu sendiri. Tanpa peran aktif dan kesadaran guru tentang pentingnya menghentikan kasus bullying ini, maka bullying akan sulit dideteksi dalam lingkungan sekolah. Peran aktif ini diharapkan juga dilakukan oleh stakeholder lain yang terlibat dalam lingkungan sekolah.

Dalam hal ini, pemerintah diharapkan juga agresif serta aktif dalam menegakkan kebenaran dalam kasus bullying. Dibutuhkan sebuah program khusus yang berupaya untuk meningkatkan kesadaran siswa akan bahaya bullying. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan keaktifan siswa untuk menghentikan penyiksaan yang terjadi di sekitar mereka. Teman sebaya adalah pihak yang paling dekat dengan lokasi terjadinya bullying. Dengan begitu, peran aktif mereka dalam menghentikan bullying juga sangat besar. Menghentikan bullying di sini dapat dengan cara meminta langsung kepada pelaku untuk tidak meneruskan aksi penyiksaannya atau dengan cara melaporkan kasus penyiksaan itu kepada guru dan orang tua murid. Keaktifan yang sama diharapkan juga dapat ditunjukkan oleh stakeholder lainnya, seperti guru, staf atau karyawan sekolah, orang tua, serta pedagang sekolah.

Pendidikan adalah ujung tombak dari kemajuan sebuah bangsa. Dalam pendidikan, generasi-generasi penerus bangsa dibentuk, dididik, dan dilatih untuk menjadi pemimpin bangsa yang hebat. Oleh karena itu, diharapkan pendidikan di Indonesia dapat berlangsung maksimal sehingga dapat menghasilkan pemimpin yang mampu memajukan bangsa. Namun dunia pendidikan kita dikotori oleh sebuah fenomena yang tidak hanya memalukan nama dunia pendidikan, namun juga memberikan efek negatif  berkepanjangan terhadap psikis anak. Fenomena itu adalah bullying.

Peran seluruh stakeholder, seperti teman sebaya, guru, staf karyawan sekolah, dan juga pedagang sekolah sangat dibutuhkan dalam menangani kasus ini. Seluruh stakeholder harus saling bahu membahu serta saling membantu dalam upaya penanganan bullying. Setiap pihak yang berwenang tidak dapat bekerja sendiri-sendiri. Untuk hasil yang maksimal, setiap pihak harus saling bersatu padu dalam mengatasi bullying. Pemerintah diharapkan juga tidak tinggal diam dalam menyikapi kasus ini. Bullying sudah seperti borok dalam dunia pendidikan. Karena adanya kecenderungan dari para korban bullying yang tidak melaporkan penyiksaan yang menimpa dirinya, kasus ini juga seperti sebuah gunung es. Secara kasat mata tidak nampak di lapangan, namun sesungguhnya sudah mengakar dalam dunia nyata.

Oleh karena itu, tindakan diam dan pasif yang selama ini banyak ditunjukkan oleh stakeholder pendidikan harus segera dihentikan lalu digantikan dengan sikap aktif serta agresif dalam menghentikan bullying. Karena kemajuan pendidikan anak bangsa ada di tangan kita semua.