^Back To Top

Kegiatan Mahasiswa Psikologi Universitas Setia Budi Melakukan Siaran Di Solopos

Dengan Kemajuan zaman yang semakin modern, banyak hal yang terjadi dimasyarakat, salah satunya permasalahan yang terjadi dimasyarakat. Permasalahan dapat berupa permasalahan berbentuk fisik seperti kemacetan yang terjadi dikota besar, bencana banjir yang datang diberbagai kota serta permasalahan fisik yang lainnya. Permasalahan fisik tersebut juga menimbulkan efek psikis bagi masyarakat yang terkena permasalahan tersebut. Dengan adanya psikolog, masyarakat mendapatkan solusi tentang permasalahan psikis yang dialaminya. Individu dapat menceritakan tentang permasalahan yang dialami sehingga individu dapat terbantu untuk menyelasaikan permasalahan yang muncul dengan dibantu oleh psikolog.

Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan diatas dapat dilakukan sharing dengan masyarakat, Solopos FM membuat sebuah talkshow Bincang Psikologi dibawah naungan HIMPSI (Himpuanan Psikolog Seluruh Indonesia)  pada setiap hari jumat pukul 21.00-22.00 WIB. Acara talkshow Bincang Psikologi dapat membantu masyarakat untuk sharing serta memberikan solusi tentang suatu hal yang terjadi di masyarakat. Dengan narasumber perwakilan dari HIMPSI Surakarta (Himpuanan Psikolog Seluruh Indonesia) Bapak Y. Joko Dwi Nugroho , M.Psi., Psikolog dan sebagai dosen Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta. Fakultas Psikologi sangat mendukung acara bincang psikologi tersebut setiap hari jumat mengirimkan perwakilan siaran, hal tersebut dimaksudkan sebagai wujud peran nyata Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta kepada masyarakat.

Fakultas Psikologi dan PAKARNITA Meningkatkan Kerjasama

    

 

 

Demi meningkatkan jaringan dan kerjasama Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi menjalin kerjasama dengan PAKARNITA dibidang penelitian pengabdian, kunjungan mata kuliah dan juga tempat belajar untuk mahasiswa. PAKARNITA sendiri panti rehabilitasi untuk mantan psk.

Sekretaris Fakultas Universitas Setia Budi, Patria Mukti S,psi Msi mengatakan kerjasama ini sebagai bentuk akademisi dalam upaya menanggulangi masalah-masalah sosial. Dia berharap dengan kerja sama ini dapat mendorong kegiatan-kegiatan yang aplikatif dan bisa bermanfaat bagi PAKARNITA pada khususnya dan masyarakat umumnya.

Dalam penjajakan perpanjangan MOU kerjasama yang didampingi oleh salah satu dosen psikologi Yustinus Joko Dwi N, M.Psi, psikolog acara perpanjangan MOU berjalan lancar dan juga pihak PAKARNITA berharap agar kerjasama kedepan lebih ditingkatkan dalam bentuk yang lebih bervariasi.

International Scholarship

 

Australian Awards Scholarship
http://www.australiaawardsindonesia.org/
Deadline: 31 March 2016

25 PhD Scholarships, University of Warwick, UK
http://www2.warwick.ac.uk/…/types…/chancellorsinternational/
Deadline: 13 January 2016

20 PhD Studentships in Politics and International Studies (PAIS), University of Warwick, UK
http://www.jobs.ac.uk/…/up-to-20-funded-phd-studentships-i…/
Deadline: 13 January 2016

30 PhD Positions at Université Sorbonne Paris Cité (USPC), France
http://www.sorbonne-paris-cite.fr/…/recherche/doctorat/cofu…
Deadline: 15 January 2016

128 PhD Studentships in at University of Leeds, UK
http://www.leeds.ac.uk/…/leeds_anniversary_research_scholar…
Deadline: 15 January 2016

300 Master Scholarships from The Swedish Institute
https://eng.si.se/…/the-swedish-institute-study-scholarshi…/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Magister dan Doktor – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/be…/beasiswa-magister-doktor/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Pendidikan Dokter Spesialis – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/…/beasiswa-pendidikan-dokte…/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Afirmasi – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-afirmasi/
Deadline: 20 January 2016

Beasiswa Pendidikan Tesis dan Disertasi – LPDP
http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/be…/beasiswa-tesis-disertasi/
Deadline: 20 January 2016

27 PhD Studentships at Newcastle University, UK
http://www.ncl.ac.uk/sage/study/postgrad/dta/
Deadline: 22 January 2016

30 PhD Studentships at Sheffield Hallam University, UK
http://www.shu.ac.uk/ad/studentships/
Deadline: 29 January 2016

100 PhD positions in Physics at Scotland, UK
http://apply.supa.ac.uk/
Deadline: 31 January 2016

International Postgraduate Research Scholarships and Adelaide Scholarships International, University of Adelaide, Australia
https://www.adelaide.edu.au/…/application-ro…/international/
Deadline: 31 January 2016

80 PhD Studentships at Queen Mary, University of London, UK
http://www.jobs.ac.uk/…/AMJ059/postgraduate-research-stude…/
Deadline: 31 January 2016

MSc/PhD Scholarships in Czech Republic
“Each applicant must have good knowledge of Czech language before arrival”
http://www.jcmm.cz/…/scholarship-for-foreign-university-stu…
Deadline: 31 January 2016

EXPERTS (Erasmus Mundus Action 2)
http://www.expertsasia.eu/index.asp?p=2365&a=2364
Deadline: 1 February 2016

MSc/PhD Scholarships from Government of Ireland
http://www.research.ie/…/government-ireland-postgraduate-sc…
Deadline: 3 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS), University of Queensland, Australia
http://scholarships.uq.edu.au/…/international-postgraduate-…
Deadline: 5 February 2016

130 Master Scholarships from CUD ARES, Belgium
http://www.ares-ac.be/csi-en
Deadline: 10 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS) at University of New South Wales, Australia
https://research.unsw.edu.au/postgraduate-research-scholars
Deadline: 19 February 2016

MSc/PhD Scholarships at King Abdulaziz University, Saudi Arabia
http://www.kau.edu.sa/Content.aspx
Deadline: 28 February 2016

International Postgraduate Research Scholarship (IPRS), University of Melbourne, Australia
https://studenteforms.app.unimelb.edu.au/apex/f
Deadline: 29 February 2016

42 PhD Studentships at University of Hull, UK
http://www.jobs.ac.uk/employer/university-of-hull/phd
Deadline: 29 February 2016

30 Master Scholarships in Development Studies at University of Antwerpen, Belgium
https://www.uantwerpen.be/…/dev…/master-development-studies/

Master Scholarships from VLIR-UOS, Belgium
http://www.vliruos.be/scholarships

85 Scholarships for undergraduate and postgraduate studies in Romania
http://www.mae.ro/en/node/10251
Deadline: 15 March 2016

200 PhD Scholarships from CAS-TWAS President’s PhD Fellowship Programme, China
http://twas.org/…/cas-twas-presidents-phd-fellowship-progra…
Deadline: 31 March 2016

PhD Scholarships at Suranaree University of Technology, Thailand
http://web.sut.ac.th/asean/
Deadline: 31 March 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), University of Newcastle, Australia
http://www.newcastle.edu.au/…/phd-and-research…/scholarships
Deadline: 31 March 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), University of Western Australia
http://www.scholarships.uwa.edu.au/search?sc_view=1&id=454
Deadline: 31 March 2016

StuNed Scholarships, Netherlands
Deadline: 1 April 2016
http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned/stuned-master

Fulbright Scholarships 2016
http://www.aminef.or.id/index.php
Deadline: 15 April 2016

15 MSc/PhD Scholarships in Business at Carlos III University of Madrid, Spain
http://www.uc3m.es/…/137120…/Master_in_Business_and_Finance…
Deadline: 30 April 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), RMIT University, Australia
http://www1.rmit.edu.au/browse;ID=d7epp9e09vaw
Deadline: 2 May 2016

International Postgraduate Research Scholarships (IPRS), Monash University, Australia
http://www.monash.edu/…/fut…/support/international-students…
Deadline: 31 May 2016

100 Rotary Peace Fellowships
https://www.rotary.org/…/g…/exchange-ideas/peace-fellowships
Deadline: 31 May 2016

Peran Ibu dalam Membentuk Relasi Anak di Masa Depan (Melati Putri Pertiwi., S.Psi., M.Si)

Peran Ibu dalam Membentuk Relasi Anak di Masa Depan

Melati Putri Pertiwi., S.Psi., M.Si

Social Psychology Department, Setia Budi University Surakarta

 

A.    Pendahuluan

Sebagai makhluk sosial, sudah sewajarnya apabila manusia butuh untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan pihak lain. Tony Kushner (dalam Berscheid & Regan, 2005) mengatakan bahwa bentuk terkecil dari unit manusia di dunia ini adalah terdiri dari dua orang individu (bukan hanya satu individu). Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa dalam hidup ini manusia tidak dapat hidup sendiri.

Teknik mempertahankan hidup paling fundamental yang dilakukan oleh manusia adalah dengan berinteraksi dengan orang lain. Tanpa adanya interaksi dengan pihak lain, teknologi dan ilmu pengetahuan tidak akan dapat berkembang. Selain itu tanpa adanya interaksi dengan pihak lain pula, eksistensi manusia di dunia ini tidak akan dapat dipertahankan. Kondisi tersebut disebabkan karena generasi manusia yang baru hanya dapat  dilahirkan ketika terjadi interaksi antara seorang pria dengan seorang wanita (Berscheid & Regan, 2005). Berbagai penelitian juga membutikan bahwa interaksi individu dengan lingkungan sosial sekitar akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan mental dan fisik (Krantz & McCeney dalam Berscheid & Regan, 2005). Interaksi atau komunikasi yang terjadi di antara dua orang individu disebut pula dengan interaksi interpersonal.

Contoh-contoh dari bentuk interaksi interpersonal, yang sering juga kita temukan, adalah hubungan kencan atau pacaran antara pria dengan wanita, pernikahan, pertemanan, dan persahabatan. Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi masing-masing bentuk interaksi interpersonal tersebut sehingga tercipta dinamika-dinamika interaksi. Beberapa faktor itu adalah pengaruh disposisional masing-masing individu, kognisi, afeksi, pengalaman masa lampau, dan pola-pola kelekatan (attachment) orang tua terhadap individu.

Dari berbagai macam faktor di atas, teciptalah berbagai macam variasi dinamika hubungan interpersonal, baik variasi yang positif maupun negatif. Contoh dari bentuk hubungan interpersonal positif adalah hubungan pernikahan yang langgeng dan persahabatan yang intim. Sedangkan bentuk hubungan interpersonal yang negatif adalah perceraian, disorientasi sesksual, dan cohabitation.

Psikologi hubungan interpersonal berusaha untuk menganalisis berbagai proses dan dinamika interaksi di atas. Psikologi hubungan interpersonal adalah salah satu ranah kajian yang menyusun aliran besar psikologi sosial. Psikologi hubungan interpersonal sangat penting untuk dipelajari ketika kita mengkaji psikologi sosial karena dengan memahami proses-proses psikologis yang terjadi dalam interaksi dua individu (interpersonal), maka proses-proses sosial yang lebih besar (yang dibahas dalam psikologi sosial) akan lebih mudah untuk dipahami.

Dalam makalah ini penulis tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai peran attachment style orang tua dan pengaruhnya terhadap kognisi individu serta pola-pola interaksi interpersonal yang ditimbulkannya. Penulis berpendapat bahwa pengaruh attachment style orang tua yang secure atau insecure adalah sangat besar pada pembentukan skema kognisi interaksi (relational schema) interpersonal sang anak. Ketika orang tua mengaplikasikan attachment style yang secure, niscaya relational schema yang terbentuk dalam kognisi anak pun akan secure pula. Relational schema yang secure akan mengarahkan pola-pola interaksi interpersonal yang sehat ketika sang anak dewasa. Begitu pula sebaliknya, pola attachment style yang insecure niscaya akan membentuk relational schema yang insecure dan akhirnya mengarahkan pada terbentuknya pola-pola interaksi interpersonal yang tidak sehat.

Penulis tidak menganggap bahwa pengaruh afeksi, emosi, ataupun disposisi individu dalam interaksi interpersonal ini tidak penting. Namun penulis berpendapat bahwa bentuk-bentuk self dan skema kognisi yang didapatkan individu dari pola kelekatannya dengan orang tua semasa kecil adalah kunci terpenting bagi terbentuknya sebuah interaksi interpersonal sang individu di masa yang akan datang. Hal itu disebabkan karena interaksi dengan orang tua adalah interaksi interpersonal pertama yang dialami oleh seorang individu. Dari interaksi tersebut, seorang individu mempelajari apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam sebuah hubungan interpersonal. Proses pembelajaran ini kemudian akan “menancap” dalam kognisi individu dan kemudian menjadi enduring relational schema. Enduring schema inilah yang kemudian akan memengaruhi pola-pola interaksi individu dengan pihak lain. Saking kuatnya schema ini, maka pengaruhnya akan terus ada sampai individu tersebut dewasa.

Berdasarkan alasan di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji teori-teori hubungan interpersonal yang telah dipelajari selama satu semester ini dari sudut pandang attachment style, self, dan kognisi individu. Oleh karena itu penulis hanya memasukkan beberapa bab yang sesuai dengan posisi penulis dalam makalah ini. Penulis merasa ada beberapa bab yang sangat penting untuk di bahas, namun ada pula beberapa bab yang kurang begitu penting untuk dibahas. Akhir kata penulis berharap bahwa posisi penulis dapat menjawab pertanyaan tentang “proses fundamental apakah yang melatarbelakangi terciptanya sebuah interaksi interpersonal sehingga memunculkan berbagai macam variasi interaksi di dunia ini?”

 

B.     Isi Essay

Sudah banyak pendapat yang mengatakan bahwa hubungan yang terjadi antara individu dengan significant other memberikan pengaruh yang besar terhadap mental representasi seorang individu (Andersen & Saribay, 2005).  Hal itu disebabkan karena interaksi dengan significant others atau orang tuaadalah interaksi pertama yang dialami oleh individu. Interaksi itu pun berperan sebagai sarana pembelajaran pertama sang individu terhadap bentuk-bentuk interaksinya dengan pihak lain. Kondisi ini sejalan dengan konsep dalam kognisi sosial yang mengatakan bahwa pengetahuan atau informasi yang didapatkan oleh seorang individu dari kehidupannya di masa lampau (masa kecil) sangatlah berpengaruh kepada tingkah laku dan pemaknaan sang individu terhadap situasi-situasi di masa kini serta di masa yang akan datang (Andersen & Saribay, 2005).

Tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu saat ini berdasarkan pengetahuan dan skemanya di masa lampau disebut dengan transference. Konsep transference didasarkan pada model relational self (Andersen & Chen dalam Andersen & Saribay, 2005) yang mengatakan bahwa manusia memiliki suatu repertoire  relational selves. Repertoire relational selves tersebut didapat melalui hubungan atau interaksi dengan significant other di masa kecil.

Significant othersadalah orang-orang yang sangat dekat dengan seorang individu semasa kecil. Kedekatan di sini dapat diartikan sebagai merawat, memelihara, atau memberikan kasih sayang (Chen & Andersen dalam Andersen & Saribay, 2005). Walaupun ada pendapat yang mengatakan bahwa significant others tidak harus orang tua atau berasal dari keluarga, namun penulis tetap memosisikan orang tua sebagai significant others paling utama dalam kehidupan individu. Chen dan Andersen (dalam Andersen & Saribay, 2005) berpendapat bahwa hubungan dengan significant others akan dapat membentuk self individu. Dari self itulah kemudian akan terbentuk pola if-then dalam relational self (Mischel & Shoda dalam Andersen & Saribay, 2005) yang kemudian berpengaruh terhadap pola-pola relasi atau interaksi dengan pihak lain.

Brock (2002) berpendapat bahwa self adalah pemahaman atau persepsi yang dimiliki oleh seseorang mengenai segala fitur, properti, dan juga kualitas dalam dirinya. Dalam sudut pandang psikologi, self dimaknai sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya (Brock, 2002). Konsep tersebut sejalan dengan teori Mead (1956) yang mengatakan bahwa manusia akan mendapatkan self-nya dari proses interaksi dengan lingkungan (terutama lingkungan sosial).  Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa self adalah sebuah integrasi kompleks dari multiple self-representation individu yang kemudian berhubungan dengan konseptualisasi atau pemaknaan sang individu terhadap pihak lain (Viney, 1969; Horowitz,1988 dalam Baccus & Horowitz, 2005).

Berdasarkan konsep di atas, self yang menurut Freud disusun dari hasil organisasi zona consciousness dan unconsciousness (Baccus & Horowitz, 2005) ini memegang peranan penting dalam hubungan interpersonal seseorang. Dari konsep  Freud mengenai self yang merupakan multiple unit tersebut kemudian terciptalah istilah state of mind. State of mind merupakan cerminan dari self-schema individu. Terdapat empat macam tipe dari state of mind, yaitu: well-modulated state (yaitu kemampuan individu dalam mengekspresikan emosinya secara tepat); overmodulated state (yaitu keadaan id yang terlalu kuat atau superego yang terlalu lemah sehingga mengakibatkan individu menjadi loos of control dalam mengekspresikan emosi); undermodulated state (yaitu keadaan superego yang terlalu kuat sehingga ekspresi emosi individu menjadi tertahan); dan shimmering (yaitu terjadi perubahan tipe state of mind individu secara terus menerus dari overmodulated ke undermodulated, dan juga sebaliknya).

Dari keempat tipe state of mind di atas dapat diketahui bahwa self-schema terdiri dari healthy atau positive self-schema dan negative self-schema. Healthy self-schema memuat pola-pola hubungan interpersonal yang adaptif dan memuat pula representasi positif terhadap self dan other-self. Sedangkan negative self-schema memuat segala pola hubungan interpersonal yang maladaptif serta representasi yang negatif terhadap self dan other-self (Horowitz dalam Baccus & Horowitz, 2005).

Sesuai dengan teori Horowitz yang menyatakan bahwa hubungan antara state of mind dengan self-schema adalah cerminan satu dengan yang lain, maka dua keadaan self-schema di atas juga menjadi cermin dari dua keadaan state of mind, yaitu:  positive state of mind dan unhealthy state of mind. Positive state of mind adalah cermin dari healthy/positive self-schema, sedangkan unhealthy state of mind adalah cermin dari maladaptive self-schema. Dari keempat tipe state of mind yang telah dijelaskan sebelumnya, Horowitz menyimpulkan bahwa well-modulated state adalah tipe state of mind yang sehat sedangkan tiga tipe sisanya (over-modulated; under-modulated; dan shimmering) merupakan tipe state of mind yang tidak sehat/maladaptif. Skema positif yang dibentuk dari state of mind positif, niscaya akan menghasilkan interaksi interpersonal yang sehat. Begitu pula sebaliknya, skema negatif yang dibentuk dari state of mind yang maladaptif, niscaya akan menghasilkan interaksi interpersonal yang tidak sehat.

Korelasi yang terjadi antara “interaksi dengan significant others”dengan “pembentukan self-schema”diungkapkan oleh Hill dan Safran (dalam Soygiit &Sava§ir, 2001). Hill dan Safran beranggapan bahwa interaksi dengan significant others adalah bentuk interaksi paling penting dalam pembentukan self-schema dan interpersonal schema, di mana kedua skema tersebut menduduki posisi penting dalam hubungan interpersonal seorang individu. Oleh karena itu, teori transference yang bermula dari teori psikonalisis Freud (Andersen & Saribay, 2005) membuktikan bahwa pola kelekatan atau attachment style yang diterapkan oleh significant others, dalam hal ini adalah orang tua, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap interaksi individu dengan pihak/orang lain.

Beberapa alinea tentang self di atas menyinggung tentang skema. Untuk lebih jauh, perlu sedikit dibahas tentang pengertian dan makna skema. Skema adalah struktur internal individu yang sifatnya enduring atau tahan lama. Struktur internal ini berisi tentang segala fitur, prototype, ide, informasi, ataupun pengalaman-pengalaman yang digunakan untuk mengorganisasi informasi-informasi baru dalam sebuah interaksi sosial. Informasi-informasi tersebut kemudian menentukan tentang pemahaman individu terhadap suatu fenomena dan pengkonseptualisasiannya (Clark dkk dalam Natinsky, 2004).

Skema yang terlibat dalam interaksi interpersonal disebut dengan relationship schema atau interpersonal schema. Istilah “relationship schema” pertama kali dikenalkan oleh Sally Planalp (dalam Berscheid & Regan, 2005). Planalp mendeksripsikan relationship schema sebagai sebuah struktur pengetahuan yang dimiliki oleh seorang individu mengenai beentuk-bentuk relasinya dengan orang lain. Pada perkembangan berikutnya, Mark Baldwin (dalam Berscheid & Regan, 2005) mendefinisikan relationship schema sebagai struktur kognitif dari pola-pola hubungan interpersonal individu.

State of mind (sekaligus empat tipenya) yang telah dijelaskan sebelumnya berperan dalam membentuk relationship schema. Dalam tulisannya, Horowitz (dalam Baccus & Horowitz, 2005) menggunakan isitilah role-relationship model untuk mewakili relationship schema. Relationship schema terdiri dari self-schema (yaitu berisi memori tentang “bagaimana” seorang individu berperan atau “bermain” dalam sebuah interaksi interpersonal); person schema (yaitu skema untuk partner interaksi); dan interaction script (yaitu pola-pola ekspektasi interaksi yang dibentuk dari pengalaman interaksi yang berulang-ulang).

Kodrat manusia sebagai seorang consistency seeker adalah salah satu alasan mengapa skema dibentuk (Berscheid & Regan, 2005). Dengan adanya skema, maka seseorang akan mendapat “kepastian” atau konsistensi dalam hubungan interpersonalnya dengan pihak lain. Hal itu disebabkan karena suatu interaksi yang tidak konsisten akan membuat individu kesulitan memberikan respon atau tingkah laku yang tepat kepada partnernya. Kesulitan ini menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri individu. Oleh karena sebab itulah sifat skema yang tersimpan dalam kognisi manusia adalah enduring atau tahan lama. Tujuannya adalah demi menciptakan interaksi interpersonal yang selalu konsisten dari waktu ke waktu.

Enduring schema dan skrip yang dibentuk-pun adalah skema-skema yang selalu berusaha untuk mendapatkan pleasure dan menjauhi displeasure (Baccus & Horowitz, 2005). Dari sifat skema dan skrip tersebut, diharapkan dapat tercipta pola-pola interaksi interpersonal yang sesuai dengan tujuan, yaitu interaksi yang berusaha mencapai “desired state” sekaligus menjauhi “dreaded state” (Baccus & Horowitz, 2005). Pola-pola ini akan terus melekat dalam memori individu dan berpengaruh terhadap segala proses interaksi di masa yang akan datang. Enduring schema akan terus bertahan selama belum terjadi fenomena besar atau perubahan drastis dalam hidup, misalnya saja pada perasaan grief (duka cita) seseorang di saat pasangannya meninggal. Kematian pasangan akan mendorong individu untuk membentuk enduring schema baru, yaitu yang dibentuk dari working model (keadaan setelah pasangan tiada) yang terjadi secara terus menerus dalam waktu yang lama.

Berasarkan rangkaian penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa attachment style seorang individu dengan significant others di masa kecil memegang peranan penting dalam meletakkan dasar dan pola interaksi sang indvidu di masa yang akan datang. Teori mengenai attachment pertama kali dikembangkan oleh Bowlby (dalam Refling, 2010). Bowlby dalam mengatakan bahwa attachment adalah bentuk interaksi yang dilakukan oleh seorang anak/balita kepada caregiver (orang yang merawat). Sama halnya dengan konsep significant others, caregiver juga dapat berasal dari pihak-pihak lain selain keluarga. Namun penulis tetap menganggap bahwa orang tua berperan sebagai caregiver yang utama. Ainsworth (dalam Refling, 2010) mengatakan bahwa terdapat tiga tipe besar dari pola attachment, yaitu: secure, anxious/ambivalent, dan avoidant.

Attachment style yang secure akan dapat memberi keamanan serta dukungan kepada individu kapanpun dibutuhkan (Bowlby dalam Mikulincer & Shaver, 2005). Selain itu attachment yang secure juga dapat membentuk kemampuan coping; memelihara kestabilan emosi; membentuk keadaan yang mature (matang); membentuk interaksi interpersonal yang intim (dekat); serta membentuk suatu hubungan interpersonal yang saling menguntungkan antara individu satu dengan yang lainnya (hubungan interpersonal yang sehat). Ainsworth (dalam Refling, 2010) mengkategorikan attachment yang secure sebagai sebuah interaksi sehat antara anak dengan caregiver. Mikulincer dan Shaver (2005), dalam salah satu bagian artikelnya, menyimpulkan bahwa secure attachment style dapat membangun dan membentuk pola relasi individu yang mengarah kepada “fully functioning person” (sesuai dengan konsep Roger).

Sedangkan tipe anxious/ambivalent attachment dan avoidant adalah tipe insecure attachment. Hal itu disebabkan karena kedua tipe tersebut tidak memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak layaknya pada secure attachment. Attachment avoidance dibentuk dari perilaku menghindar atau ketidaknyamanan individu dalam hubungan interpersonal. Sedangkan anxiety attachment mengarah pada rasa tidak berharga dan ketakutan akan penolakan dalam diri individu (Ainsworth dalam Refling, 2010).

Salah satu bentuk insecure attachment adalah penolakan yang dilakukan oleh caregiver kepada individu semasa kecil. Penolakan yang dilakukan secara terus menerus akan membentuk skema kognisi yang berisi penolakan pula (Pietrzak, Downey, & Ayduk, 2005). Skema negatif tersebut kemudian membuat individu cenderung untuk merespon segala stimulus yang datang kepadanya sebagai stimulus yang mengancam (walaupun sebenarnya stimulus itu netral), sehingga respon-respon yang ditunjukkan pun adalah respon-respon yang negatif, seperti takut, marah, cemas, agresif, ataupun hostile. Kondisi tersebut tentu saja sangat berbeda dengan individu yang memiliki bentuk attachment style yang secure semasa kecil (Safran & Segal dalam Soygiit and I§ik Sava§ir, 2001).

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa attachment syle yang secure akan menghasilkan relation schema yang secure. Begitu pula sebaliknya, attachment syle yang insecure akan menghasilkan relation schema yang insecure. Bentuk respon yang dihasilkan masing-masing skema tersebut (baik secure maupun insecure), kembali lagi, tidak dapat dilepaskan dari peran self seperti yang telah dijelaskan pada bagian awal.

Proses panjang dari terbentuknya self individukarena peran attachment dengan significant others di masa kecil hingga munculnya pola-pola interaksi di masa dewasa menjadi titik tekan penulis. Penulis ingin mengungkapkan bahwa munculnya berbagai macam variasi dan perbedaan bentuk serta pola interaksi interpersonal setiap individu adalah karena pengaruh attachment style semasa kecil. Attachment style yang berbeda akan memunculkan bentuk-bentuk interaksi interpersonal yang berbeda pula.

Berbagai macam variasi bentuk relasi itu adalah hubungan pernikahan; hubungan keluarga; hubungan romantis atau kencan di antara individu lawan jenis maupun sejenis; dan hubungan pertemanan atau persahabatan. Dalam masing-masing hubungan tersebut terjadi berbagai proses yang akhirnya menghasilkan dinamika hubungan. Dinamika hubungan ini dapat digolongkan ke dalam dua cara besar, yaitu hubungan yang berlangsung dengan cara positif dan hubungan yang berlangsung dengan cara negatif. Contohnya saja, dalam hubungan pernikahan dapat terjadi pernikahan yang berjalan dengan mulus (langgeng), flat (datar), penuh konflik, atau bahkan bercerai. Pernikahan yang langgeng mengindikasikan bahwa interaksi interpersonal berjalan dengan cara yang positif (dinamika positif). Sedangkan pernikahan yang flat, penuh konflik, atau bahkan berujung pada perceraian, adalah contoh dari hubungan interpersonal yang berjalan dengan cara negatif (dinamika negatif). Kondisi tersebut juga terjadi pada bentuk-bentuk hubungan interpersonal yang lain seperti hubungan keluarga dan hubungan romantis. Dewasa ini, jumlah hubungan romantis yang melanggar batas norma hukum dan agama telah meningkat dengan tajam. Contoh hubungan romantis beda jenis kelamin yang telah melanggar aturan dan norma adalah free sex atau cohabitation. Selain itu terdapat pula hubungan homoseksual (gay/lesbian) yang telah secara jelas melanggar aturan hukum dan norma agama.

Dalam makalah ini penulis hendak menarik sebuah benang merah antara bentuk attachment style individu semasa kecil dengan berbagai macam variasi relasi tersebut. Attachment style yang secure tentunya akan mampu untuk membentuk relasi interpersonal yang sehat atau secure, contohnya seperti pernihakan yang langgeng. Sedangkan attachment style yang insecure akan mengarah kepada variasi hubungan interpersonal yang juga insecure atau tidak sehat, contohnya kebiasaan cohabitation remaja, konflik pernikahan, dan perceraian.

Salah satu bukti empiris yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara attachment style dengan relasi interpersonal individu adalah korelasi yang terjadi antara “perceraian orang tua” dengan “kecenderungan cohabitation remaja”. Perceraian adalah salah satu bentuk attachment style yang buruk karena biasanya perceraian didahului oleh konflik berkepanjangan di antara orang tua. Dampak dari berpisahnya orang tua pun akan meninggalkan bekas trauma yang sangat dalam terhadap mental anak/remaja. Bumpass, Sweet, & Cherlin (dalam Amato, 2000) menyebutkan bahwa seperempat anak-anak yang berasal dari single-parent families akhirnya akan menjadi pelaku cohabitation. Kozuch dan Cooney (dalam Martin dkk, 2001) juga menemukan bahwa kecenderungan cohabitation sebelum menikah ternyata lebih tinggi pada remaja yang mengalami konflik dan perceraiaan keluarga.

 

C.    Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah adanya keterkaitan erat antara “tipe kelekatan (attachment style) seorang individu semasa kecil dengan significant others atau caregivers” dengan “pola-pola interaksi interpersonal”. Interaksi dengan significant others akan menjadi sumber pembentukan self dalam diri individu. Self adalah segala fitur, properti, atau informasi yang berkaitan dengan diri individu. Self yang sudah terbentuk semasa kecil akan terus melekat hingga individu itu dewasa (bersifat enduring).

Berdasarkan sifat self di atas, maka dapat dikatakan bahwa self memegang peranan penting, bahkan krusial, dalam segala dimensi tingkah laku individu. Segala bentuk sikap, pola pikir, dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh individu adalah didasarkan pada bentuk self yang dimilikinya. Hubungan atau interaksi interpersonal adalah salah satu dimensi yang dipengaruhi oleh self.  Salah satu komponen yang menyusun self dan berpengaruh pada interaksi interpersonal adalah self-schema.

Self-schema, bersama dengan other-schema dan interaction script, akan membentuk sebuah relationship-schema (relationship-model). Berdasarkan sifat self yang enduring (tahan lama), maka sifat dari relationship-schema ini pun adalah enduring (enduring schema). Relationship schema akan menjadi sebuah patokan individu dalam bertingkah laku dan berespon terhadap partnernya dalam sebuah interaksi. Apabila interaksi terjadi di luar schema dan di luar skrip, maka akan terjadi sebuah interaksi yang maladaptif (konflik). Interaksi yang maladaptif juga dapat dikarenakan self dan schema yang dimiliki oleh individu sudah bersifat maladaptif terlebih dahulu. Bentuk self dan schema yang maladaptif adalah disebabkan karena adanyan pola kelekatan yang maladaptif semasa kecil.

Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa attachment style yang buruk (insecure) akan menghasilkan interaksi interpersonal individu yang maladaptif. Begitu pula sebaliknya, attachment style yang sehat (secure) akan menghasilkan interaksi interpersonal yang positif/sehat. Perbedaan tipe kelekatan inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai macam variasi bentuk relasi interpersonal di masyarakat. Contoh dari bentuk interaksi interpersonal yang maladaptif (insecure) adalah konflik keluarga dan pernikahan yang berkepanjangan, perceraian, free sex/ cohabitation, dan disorientasi seksual. Sedangkan bentuk interaksi yang sehat (secure) adalah hubungan keluarga yang harmonis dan pernikahan yang langgeng.

Oleh karena itu, terjadi proses panjang antara bentuk attachment style (secure atau insecure) semasa kecil dengan bentuk-bentuk hubungan interpersonal individu di masa dewasa. Dari proses panjang tersebut dapat diketahui bahwa sangat penting bagi significant others/caregiver untuk membentuk sebuah attachment style yang secure kepada anak. Tanpa adanya attachment style yang secure, niscaya hubungan interpersonal sang anak di masa dewasa akan menjadi hubungan yang maladaptif. Pemahaman ini dapat menjadi masukan bagi masyarakat (khususnya orang tua) untuk segera mengaplikasikan pola kelekatan yang secure demi terbentuknya berbagai dimensi kehidupan yang lebih baik bagi sang anak khususnya dimensi interaksi interpersonal.

 

Daftar Pustaka

 

Amato, Paul R. 2000. The Consequences of Divorce for Adults and Children. Journal.Journal of Marriage and Family : Vol. 62, pp. 1269-1287.

Andersen, Susan M and Saribay, S. Adil. 2005. The Relational Self and Transference: Evoking Motives, Self-Regulation, and Emotions through Activation of Mental Representation of Sifgnificant others. In Interpersonal Cognition, edited by Mark W. Baldwin. New York: The Guliford Press.

Baccus, Jodene R and Horowitz, Mardi J. 2005. Role-Relationship Models: Addresing Maladaptive Interpersonal Patterns and Emotional Distress. In Interpersonal Cognition, edited by Mark W. Baldwin. New York: The Guliford Press.

Berscheid, Ellen and Regan, Pamela. 2005. The psychology of Interpersonal Relationships. New Jersey : Pearson Education, Inc.

Brock, Dan W. 2002. Human Cloning and Our Sense of Self. Article. Science Proquest: 296 (5566), pg. 314-317.

Martin, Paige D; Martin, Don; and Martin, Maggie. 2001. Adolescent Premarital Sexual Activity, Cohabitation, and Attitudes Toward Marriage. Journal. Adolescence : Vol. 36, No. 143, pp. 601-609.

Mead,G.H. 1956. The Probles of Society: How We Become Selves?

Mikulincer, Mario and Shaver, Philip R. 2005. Mental Representations of Attachment Security: Theoretical Foundation for a Positive Social Psychology. In Interpersonal Cognition, edited by Mark W. Baldwin. New York: The Guliford Press.

Natinsky, Michelle Bronik. 2004. Gender Differences in the Relationship Between Self-Schema and Interpersonal Schema in Adolescent Depression. Dissertation. Austin: The University of Texas.

Pietrzak, Janina; Downey, Geraldine; and Ayduk, Ozlem. 2005. Rejection Sensitivity as an Interpersonal Vulnerability. In Interpersonal Cognition, edited by Mark W. Baldwin. New York: The Guliford Press.

Refling, Erica Julie. 2010. The Influence of Romantic Attachment Styles and Imagined Partner Rejection on Female Body Image. Thesis. Ontario, Canada: Queen’s University.

Soygiit, Gonca and Sava§ir, I§ik. 2001. The Relationship Between Interpersonal Schemas and Depressive Symptomatology. Journal.  Journal of Counseling Psychology: vol. 48(3), 359-364.

 

 

 

Copyright © Puskom Universitas Setia Budi Surakarta 2013


Facebook